-->

Profil Hamba Tuhan

Foto saya
Jakarta, Indonesia
Seorang Hamba Tuhan yang memiliki kerinduan untuk dapat memberkati banyak orang melalui Pastoral Konseling, dengan berbagai hal dan cara, salah satunya adalah melalui fasilitas dunia maya (Internet). Riwayat Pendidikan Teologi: - Sarjana Theology (S. Th) jurusan teologi, 1999. - Master of Art (M. A) jurusan Christian Ministry, 2002. - Master of theology (M. Th)Thn 2010. - Doctor of Ministry (D. Min)Thn 2009. God Bless You All.

Pendahuluan

Shallom, selamat datang di blog saya Pdt. Denny Harseno, M. A., D. Min. Saudara, saya senang sekali jika dapat memberkati saudara sekalian melalui setiap tulisan-tulisan dan artikel-artikel yang ada pada blog ini. Jika saudara ingin membaca setiap tulisan-tulisan dan artikel-artikel terdahulu yang ada pada blog ini, saudara cukup memilih label daftar isi blog atau dengan memilih pada arsip blog yang ada di samping kiri blog ini, dan silahkan mengisi buku tamu blog saya dibawahnya, agar saya dapat mengetahui siapa saja yang telah berkunjung diblog saya. Terima kasih atas perhatiannya, Tuhan Yesus Kristus memberkati.

03 Juli 2010

METANOIA




Galatia 1: 11-24


11 Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia.
12 Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.
13 Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya.
14 Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku di antara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku.
15 Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia- Nya,
16 berkenan menyatakan Anak- Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia;
17 juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali ke Damsyik.
18 Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya.
19 Tetapi aku tidak melihat seorang pun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus.
20 Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta.
21 Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia.
22 Tetapi rupaku tidak dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea.
23 Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya.
24 Dan mereka memuliakan Allah karena aku.


Seringkali kali dari mulut kita keluar kata-kata pengakuan tentang pertobatan, akan tetapi lain dibibir lain dihati. Ternyata selang beberapa lama jatuh lagi dalam dosa, kemudian keluar lagi kata-kata pertobatan tidak lama setelah itu jatuh lagi dalam dosa. Pertanyaan kita disini adalah apakah hidup ini hanyalah sebuah permainan? Dan sampai kapan permainan ini akan berakhir? Tidak tahukah kita bahwa hidup ini ada waktunya berakhir yang tidak bisa kita kuasai? Untuk lebih bertanggung jawab dengan pertobatan kita, marilah kita belajar dengan orang jahat yang bernama Saulus, mengenai nilai sebuah petobatan yang Saulus lakukan.

Metanoia sesuai dengan judul di atas artinya adalah perubahan seratus delapan puluh derajat, yang kalau istilah seorang pelaut ia telah salah arah membawa kapalnya dan harus berbalik arah mengikuti kompas agar tidak tersesat tetapi menuju arah yang benar.
Gambaran ini sangat tepat yang dilakukan Saulus yang akhirnya berganti nama menjadi Paulus, dan setelah itu ia menjadi Rasul Yesus Kristus.
Dalam suratnya yang ditujukan untuk jemaat di Galatia, kita bisa melihat secara jelas siapa Paulus dahulu? dan siapa Paulus yang sekarang? Dalam suratnya itu kita bisa mengetahui rahasia yang besar tentang pertobatan Paulus, sehingga akan menjadi patokan hidup kita dalam pertobatan kita yang sesungguhnya dan untuk selamanya.
Saya percaya kita adalah orang-orang yang rindu menyenangkan dan mempermuliakan Tuhan Yesus dalam sisa umur kita ini yang Tuhan berikan. Terlalu sayang untuk kita sia-siakan, bukan?!
Hal pertama pintu masuk Paulus bertobat terletak pada ayat: 11 Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia.12 Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus. Jelas disini bahwa Paulus tidak pernah sedikitpun memandang bahwa Injil yang ia beritakan dan percayai itu adalah dari manusia, tetapi mutlak ia terima dari penyataan Yesus Kristus. Disini Paulus taat melakukannya dengan sunguh-sungguh tanpa kompromi. Bagaimana dengan kita?
Sesungguhnya masih banyak orang-orang Kristen beranggapan bahwa Injil itu bukan dari Tuhan tetapi hanya rekaan manusia belaka, sehingga menganggapnya rendah, bahkan lebih rendah dari kepentingan manusia tersebut sehingga segala yang tertulis dalam Alkitab bisa di kompromikan. Dan lebih celaka lagi Injil itu disejajarkan dengan buku-buku atau tulisan-tulisan lain semacam filsafat-filsafat nenek moyang, primbon, buku-buku paranormal dan sebagainya. Pada hal Injil itu terlalu mulia bila di sejajarkan dengan apapun juga, sebab Injil itu adalah firman Tuhan.
Jangan harap ada pertobatan yang sejati apabila pada kita masih tidak percaya bahwa Injil itu dari sorga, bukan dari manusia. Kita pasti akan jatuh bangun di dalam dosa yang akan berakhir dengan kekalahan total.
Hal kedua 13 Sebab kamu telah mendengar tentang hidupku dahulu dalam agama Yahudi: tanpa batas aku menganiaya jemaat Allah dan berusaha membinasakannya. 14 Dan di dalam agama Yahudi aku jauh lebih maju dari banyak teman yang sebaya dengan aku diantara bangsaku, sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. Disini Paulus ingin menjelaskan bahwa pengertiannya yang dalam tentang Agama tidak mampu membawa ia kepada kasih terhadap sesamanya, justru semakin ia kejam terhadap manusia yang berlainan agama dengannya. Dan hasil akhirnya dari rajin dan tekun belajar agama adalah hanya memelihara adat istiadat nenek moyang yang diutamakan ketimbang mengasihi sesamanya. Sehingga sempit pemikirannya dan waktunya terbuang percuma.
Jadi disini terbukti semakin orang mendalami sebuah agama yang muncul adalah semakin merasa paling benar dan paling hebat dari pada orang lain dan tidak segan-segan untuk menyakiti orang-orang yang tidak sepaham dengannya, akan tetapi ajaran Yesus adalah semakin kita perduli akan orang lain atau sesama, semakin kita saling mengasihi dengan tidak memandang perbedaan yang ada. Hasilnya Paulus adalah Rasul yang khusus membawa kabar baik untuk orang-orang non Yahudi.
Hal ketiga 15 Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, 16 berkenan menyatakan anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia; 17 juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik. Disini Paulus sangat mempercayai rancangan Tuhan terhadap dirinya (Predestinasi) yang telah memilihnya dari semasa ia dikandungan ibunya. Paulus tidak mempercayai hidup itu adalah sebuah kebetulan, atau hidup adalah sebuah permainan. Hidup ini adalah sebuah kepastian yang dirancangkan pencipta kita yaitu Yesus Kristus bagi umat manusia agar mendapatkan keselamatan-Nya.
Untuk dari itu Paulus tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada buat dirinya dan dia tidak perlu meminta pertimbangan kepada manusia, karena pilihan Tuhan Yesus atas dirinya di atas segalanya dan jauh lebih hebat dari pada sebuah pendapat atau nasehat dari manusia manapun di muka bumi ini. Terlebih Paulus sendiri adalah ahli Taurat.
Kalau kita hari ini masih percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat kita itu bukanlah perkara kebetulan akan tetapi Allah di dalam Yesus Kristus telah memilih kita untuk menjadi umat yang spesial bagi- Nya.
Kalau anda saat ini membaca tulisan ini juga bukan suatu kebetulan, tetapi engkau adalah umat pilihan Tuhan Yesus untuk memperoleh keselamatan kekal di Sorga. Karena semua aktifitas yang ada di dunia ini bukan terjadi begitu saja secara kebetulan tetapi ada yang mengaturnya.
Mari kita putuskan sekarang mau mengikuti kehendak Tuhan Yesus, atau mengikuti nasehat orang fasik yang kesudahannya adalah kebinasaan. Up to You.
Hal keempat 18 Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. 19 Tetapi aku tidak melihat seorangpun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus. 20 Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta. Paulus kemudian kerumah Kefas atau Petrus, sebagai rasul yang paling dituakan sudah barang tentu Paulus bermaksud menghormati rasul Petrus tersebut sesuai tatakrama bangsa Yahudi. Lima belas hari Paulus menumpang dan sambil menunggu rasul Petrus, ternyata Paulus hanya menjumpai rasul Yakobus saudaranya Tuhan Yesus.
Pertanyaannya disini, kemana perginya para Rasul tersebut? Apakah mereka sedang bergiat menginjil? Dan kalau mereka bergiat menginjil mana hasil dari tulisan-tulisan mereka? Coba bandingkan dengan hasil dari tulisan-tulisan rasul Paulus, banyak mana?
Bukan bermaksud menghakimi rasul yang lain dibandingkan rasul Paulus, ternyata rasul Paulus lebih bekerja keras daripada rasul-rasul lain. Kita bisa melihat banyaknya surat-surat yang Paulus tulis(kurang lebih lima belas surat, itupun banyak tulisan-tulisan Paulus yang hilang) kepada jemaat yang ia layani. Mengapa? Karena Paulus sadar bahwa kasih karunia yang ia peroleh dari Tuhan Yesus Kristus dan ia yang dipercaya sebagai rasul-Nya, harus ia pertanggung jawabkan sebaik-baiknya dan tidak pernah sedikitpun Paulus buang-buang waktu. Bagaimana dengan kita?
Hal kelima 21 Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia. 22 Tetapi rupaku tetap tidak di kenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea. 23 Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya. 24 Dan mereka memuliakan Allah karena aku.
Rasul Paulus mengalami kejadian yang aneh atas perubahan pada dirinya terhadap orang-orang di sekitar Paulus. Sebab saat Paulus berhadapan dengan orang-orang yang dahulu ia aniaya, mereka tidak lagi mengenal Paulus sebagai orang yang menganiaya mereka. pada hal kurun waktunya baru tiga tahun, bukankah kita seringkali mengingat seumur hidup kepada yang menganiaya kita? Gejala apakah ini? Apakah jemaat-jemaat tersebut terserang penyakit Amnesia (hilang ingatan) massal? Ternyata tidak demikian, lalu apa?
Saudaraku yang terkasih di dalam TuhanYesus Kristus inilah perubahan yang Paulus rasakan dan alami pada dirinya, atas pertobatan yang sungguh-sungguh ia kerjakan pada saat pertama kali ia mengenal Yesus Kristus, Paulus tidak pernah berpura-pura pada waktu dalam pertobatannya sehingga Paulus pantas diberikan sebutan Metanoia (berbalik arah seratus delapan puluh derajat).
Manusia lama Paulus telah lenyap atas dirinya: yaitu yang dahulunya menjadi manusia jahat, sadis, dan tidak berkeprimanusiaan, kemudian berubah menjadi manusia yang mempunyai cinta kasih terhadap sesamanya, dahulu manusia yang hanya memikirkan dirinya dan kelompoknya saja, sekarang atas setiap suku bangsa Paulus mengasihi mereka.
Metanoia bisa juga digambarkan seperti binatang Ulat yang berubah menjadi seekor Kupu-kupu. Dahulu Ulat jalannya merayap, setelah menjadi Kupu-kupu jalannya terbang. Dahulu Ulat makannya daun-daunan, setelah menjadi Kupu-kupu makannya sari bunga dan dahulu Ulat adalah binatang yang menjinjikan dan banyak dibenci orang setelah menjadi Kupu-kupu menjadi serangga yang banyak di sukai orang. Hebat! GOD BLESS YOU ALL!




12 April 2010

Kesempatan




Kesempatan atau peluang tidak datang dua kali. Demikian
ungkapan yang sering kita dengar. Itu sebabnya, kita juga sering
mendengar orang berkata: Kalau ada kesempatan jangan sampai
dilewatkan.
Kesempatan itu bagian dari anugerah waktu yang Tuhan
berikan. Bila dirangkum, waktu dalam bahasa Yunani kuno
diwakili oleh 2 kata, yakni: Kairos dan Kronos (Chronos). Kairos
adalah suatu kata Yunani kuno yang berarti “saat yang tepat atau
yang benar”. Kronos berarti: menurut kronologis atau urutan
waktu. Ini adalah waktu yang berulang; rutin. Chronos bersifat
kuantitatif, Kairos mempunyai suatu yang bersifat natural.
Terkadang, Kairos mendapatkan intervensi dari Tuhan – ia
diberikan tidak kepada semua orang – tidak pula untuk setiap
waktu – inilah kesempatan. Jadi, kesempatan adalah Kairos yang
mesti diambil; jangan terlewatkan, karena ia tidak berulang;
mungkin tidak akan terjadi lagi.
Kesempatan yang tidak boleh kita buang adalah kesempatan
yang berdampak kekal. Kalau kita ambil kesempatan sorga, maka
kita kekal selama-lamanya di sorga. Tetapi kalau kita ambil
kesempatan neraka, maka kekallah kita di neraka kelak. Tak bosanbosannya
saya selalu mengatakan kepada banyak orang, hidup
dan mati kita hanya Tuhan yang tahu pasti. Kita tidak hidup
selamanya meski kita telah menjaga pola makan, berolahraga dan
senantiasa berhati-hati tatkala beraktivitas. Suatu saat jika kloter
(kelompok terbang) kita tiba, putus sudah kita punya nyawa. Puji
Tuhan kalau kita mati sebagai anak Tuhan yang taat dan ketat
menjalankan firman-Nya, tetapi bagaimana kalau kita pass away
sementara melakukan praktik dosa? Anda pasti bisa menjawab
pertanyaan ini.
Soal masuk sorga ini bukan sekadar keyakinan, tetapi juga
praktik hidup yang sesuai untuk syarat calon para penghuni sorga.
Jika saya dan saudara hidup selaras dengan firman-Nya, sorga
adalah suatu kepastian!
Mari kita telaah firman Tuhan berikut ini: Ada juga tulisan di
atas kepala-Nya: “Inilah raja orang Yahudi” (Lukas 23:38). Tulisan
tersebut terpatri di bagian atas salib Yesus. Kalimat itu pulalah
yang memicu terjadinya dialog terakhir antara Yesus dan dua
orang penyamun yang disalibkan di kedua sisi-Nya.
Dua orang manusia yang sedang meregang nyawa di atas kayu
salib tersebut mendapatkan kesempatan terakhir berbicara
dengan Tuhan. Kesempatan ini tidak berulang; tidak datang dua
kali. Ternyata, dua penjahat ini mempunyai sikap yang berbeda
dalam mengambil kesempatan tersebut. Penjahat yang pertama,
yang berada di sebelah kiri, menggunakan kesempatannya untuk
menyampaikan sesuatu kepada Yesus dengan kata-kata yang
sebenarnya penuh ejekan dan ketidakyakinannya. Perkataannya
bernada sinisme dan tidak rendah hati. Orang ini tidak tahu diri,
sudah mau mati masih sombong. Dia merasa benar, makanya
Yesus harus menyelamatkan dia. Dia tidak merasa bersalah. Dia
penjahat yang tidak mengaku jahat.
Begitu pula dengan kita. Kita sering menggunakan azas
pembuktian efidensialisme. Kalau Engkau Tuhan, sembuhkan dong
sakitku. Mana jodohku? Kalau Engkau Tuhan, buktikan kuasa-
Mu! Mana bukti janji-Mu? Perkataan semacam ini sebenarnya sama
dengan menantang Tuhan; meragukan kemahakuasaan-Nya.
Orang-orang bertipe ini biasanya menjadi kecewa dan lalu
meninggalkan Tuhan tatkala apa yang diminta tidak terpenuhi.
Mereka tak jarang tidak mau ke gereja lagi. Bahkan, ada yang
meninggalkan pelayanannya. Kehidupan mereka kemudian
menjadi hampa tanpa dikontrol lagi oleh kebenaran Tuhan.
Akibatnya bisa ditebak, mereka pergi ke dukun. Mereka mulai
belajar mempercayai apa kata paranormal. Mereka lebih percaya
hong sui. Mereka mengandalkan kekuatan sendiri.
Sisi lain daripada orang-orang yang cepat menjadi kecewa dan
undur dari Tuhan lantaran tidak mendapatkan apa yang
diinginkannya, adalah menciptakan dirinya sebagai tuhannya
Tuhan. Mereka memaksa dan menyuruh Tuhan untuk
mengabulkan apa yang diminta. Tuhan bagai babu dan
pesuruhnya. Tuhan dijadikan seperti jin yang dalam cerita-cerita
dongeng 1001 malam ala timur tengah, pasti mengabulkan
permintaan tuannya.
Orang tipe begini akan mudah terbawa kepada pengajaran
sesat. Hati-hati! Ada beberapa bidat atau sekte yang sekarang ini
sangat genjar mewartakan ‘kebenarannya’. Mereka semakin berani
dan sangat progress menjalankan misinya, merekrut anggota baru.
Jika anda terus menjauh dari Tuhan, anda bisa menjadi seperti
orang yang tidak bertuhan, dan sangat mungkin mengikuti sektesekte
tersebut.
Kita seringkali menuntut banyak kepada Tuhan, sedangkan
kewajiban kita tidak dijalankan. Kita selalu maunya didengar oleh
Tuhan, tetapi kita tidak mau mendengar suara Tuhan. Kita mau
berkat dari Tuhan, tetapi kita tidak mau menjalankan perintah
Tuhan. Kita adalah pembantunya Tuhan. Seyogianya kita
mendegarkan dan melakukan apa yang Dia mau. Adakah
Pembantu Rumah Tangga (PRT) yang tidak menjalankan perintah
tuannya, tetapi tetap mendapatkan penghargaan (gaji) dari
tuannya?
Mungkin ada yang berkata: “Pak, penjahat itu ‘kan tidak sama
dengan sikon kita”. Jawaban saya: Kita sama dengan dia. Bedanya,
dia tahu dia mati kapan, kita tidak. Tapi jangan lupa, kalau penjahat
itu mati pelan-pelan, kita bisa mati mendadak. Saya tidak sedang
menakut-nakuti, tetapi hal ini bisa terjadi kepada saya atau juga
anda. Posisi kita dengannya sama. Kita juga tersalib. Tersalib dari
kehidupan yang lama. Karena setiap orang yang mengikut Tuhan
harus menyangkal diri dan memikul salibnya sendiri (Mat. 16:24).
Kita lihat penjahat yang kedua. Dalam Lukas 23:40: Tetapi
yang seorang menegor dia, katanya: “Tidakkah engkau takut, juga tidak
kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Tentu
kita setuju dengan pernyataan penjahat yang kedua, bahwa Yesus
tidak berbuat kesalahan. Faktanya, dalam hidup ini, seringkali
kita menyalahkan Tuhan. Mengapa begini? Mengapa begitu? Kita
merasa benar dan Tuhan salah. Kita lupa bahwa kita adalah
manusia berdosa (Rm. 3:23). Manusia sudah berdosa, justru
karena kemurahan Tuhan saja, kita bisa ada sebagaimana kita ada
hingga dengan saat ini.
Penjahat yang kedua ini hanya mengenal Yesus secara singkat.
Mungkin sebelum disalib, dia telah diisolasi dalam waktu sebulan.
Informasi tentang Yesus sedikit saja diterimanya. Tetapi penjahat
yang tersalib di sebelah kanan ini memanfaatkan waktu dengan
maksimal. Tidak demikian dengan kita yang sebenarnya memiliki
waktu yang cukup panjang untuk mengenal dan mengikuti Yesus.
Namun, kelakuan kita kerapkali mengecewakan Tuhan dan
sesama.
Mari koreksi diri sendiri, sudahkah kita mengasihi musuh kita
sebagaimana yang firman Tuhan katakan? Apakah tidak ada lagi
dendam kesumat dalam diri kita? Sudahkah kita membuang dan
menolak pikiran najis dan cabul dari hati dan pikiran ini?
Penjahat yang kedua ini tahu menempatkan dirinya jauh lebih
rendah daripada Yesus. Dia menegor temannya yang tidak tahu
diri dan tinggi hati itu. Dia merasa tidak layak Yesus dihukum
mati dan karenanya disejajarkan dengan kejahatannya. Penjahat
ini tahu, bahwa Yesus adalah Raja. Itu sebabnya dia berkata,
“Ingatlah akan aku…” Mungkin dia tahu Yesus Raja dari
sepenggal kalimat yang terletak di atas kayu salib Yesus itu.
Penjahat ini percaya Yesus Raja kendatipun tulisan itu adalah
tulisan ejekan. Pengakuan tulus dari penjahat yang kedua ini
membuat Yesus memastikan, bahwa hari itu juga dia berada di
Firdaus.
Bagaimana dengan kita? Setiap hari kita mendengar dan
melihat tentang Yesus dengan banyak penyebutan dan tulisan:
Allah Maha Kuasa, El-Shaddai, Imanuel. Telinga kita pun tiaptiap
minggu mendengar firman Tuhan. Nah, sudahkah kita
menggunakan kesempatan yang masih terbuka ini untuk
mengasihi Dia dan hidup melekat dengan-Nya? Jika belum,
bersegeralah karena kesempatan bisa jadi tidak datang lagi!

Peran Roh Kudus




Dalam rangka selalu menyertai umat-Nya, Tuhan memberikan
seorang Penolong, yaitu Roh Kudus. Roh Kudus adalah Roh
Allah. Dia memiliki peran penting dalam mengawal kehidupan
kita di dalam Tuhan. Apa sajakah peran-Nya itu?
Pertama: Roh Kudus Memerintah
Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke
Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus (Kis. 13:4). Para rasul
percaya betul bahwa pelayanan mereka diperintah oleh Roh
Kudus. Sebagai pelayan Tuhan, kita juga harus sadar, bahwa
pelayanan kita seharusnya karena diperintah oleh Roh Kudus,
bukan karena mau, mampu, pintar dan sempat. Kalau pelayanan
kita tidak diperintah oleh Roh Kudus, kita akan gagal di tengah
jalan. Kita cuma akan bertahan sebentar.
Saya menyaksikan banyak hamba Tuhan yang jatuh dalam dosa
karena tidak mengoptimalkan Roh Kudus yang ada dalam
dirinya. Banyak pula sesama pelayan yang saling sikut dan
berkelahi. Ada juga yang berzinah. Jatuh dalam keculasan dan
keserakahan. Banyak juga jemaat yang mau ke gereja malah ke
mall. Semua itu adalah gangguan dari si jahat. Karena iblis tidak
suka anak-anak Tuhan melakukan kebenaran.
Ada kisah nyata, seorang hamba Tuhan yang ingin
mendedikasikan pelayanannya khusus untuk para wanita tuna
susila. Mulanya dia berhasil memenangkan mereka. Namun, 5
tahun kemudian, dia malah menjadi germo. Tragis dan ironis!
Saya jadi pendeta karena diperintah oleh Roh Kudus. Jika
tidak, maka tidak ada pembelaan Tuhan terhadap saya. Anda
jangan main-main dengan pelayanan kalau tidak diperintah atau
dipanggil oleh Tuhan. Tujuh anak imam Skewa digagahi dan
dipermalukan iblis karena mereka mencoba mengusir roh-roh
jahat tanpa memiliki otoritas dari Tuhan.
Ayat 9 dari bacaan perikop kita memperlihatkan bagaimana
upaya iblis menghalangi tumbuhnya iman pada diri seorang
gubernur. Ia muncul dalam raga Elimas, seorang tukang sihir.
Pada jaman itu, pelayanan Paulus dan Barnabas diganggu oleh
kuasa tukang sihir. Pada jaman sekarang, gangguan para pendeta
adalah uang dan roh najis. Saya juga tidak luput dari gangguan
ini tentunya. Apalagi saya juga ganteng...
Suatu waktu, setelah usai ibadah. Saya diajak makan berdua
saja oleh seorang wanita cantik. Cantik buanget. Saya ‘kan tidak
buta… Dengan tegas saya menolak tawaran wanita tersebut. Saya
punya prinsip, kalau bukan suami-istri, tidak boleh makan berdua
saja. Dari apa yang saya pelajari, banyak pendeta jatuh dalam
perzinahan karena hal semacam ini. Tidak ada pendeta yang kebal
dengan hal ini. Jika ia tidak menghindar, maka jatuhlah ia dalam
dosa. Dalam suasana makan berdua tadi, tidak mungkin kita tidak
saling berbicara satu sama lain, dan berpandang-pandangan. Itu
kerbau namanya. Pastilah kita berdialog; konseling; lalu korsleting
dan akhirnya ... . Siapapun anda, kita harus berhikmat,
bijaksana dan berhati-hati dalam bersikap, karena iblis tidak
pernah menyerah. Dia terus berusaha menjatuhkan sebanyakbanyaknya
iman orang beriman.
Iblis di akhir zaman ini tidak sama dengan iblis tempo dulu
yang jelek, hitam, bergigi runcing dan menakutkan. Iblis sekarang
punya rupa yang cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Jadi berhatihatilah!
Kedua: Roh Kudus Menghibur
Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria
berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut
akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan
penghiburan Roh Kudus (Kis. 9:31). Seorang ibu muda di rumah
duka berkata seperti ini kepada saya: “Pendeta, Tuhan itu jahat,
karena suami saya mati muda, padahal dia adalah tulang
punggung keluarga. Kalau dia sekarang mati, bagaimana saya
dapat menghidupi anak-anak saya? Saya tidak mau lagi ke gereja”.
Inilah sungut-sungut; tidak ada pengharapan apalagi sukacita
karena bersandar pada duniawi. Kita perlu cek dan ricek apakah
sukacita kita itu asli atau palsu. Kalau sukacita kita asli dari Roh
Kudus, maka ada uang atau tidak, tetap haleluya! Sebab,
penghiburan dari Roh Kudus pasti menghasilkan sukacita sejati.
Paulus dan Silas dalam keadaan terpenjara, tetapi mereka tetap
bersukacita. Penjara tidak bisa mematikan sukacita mereka. Ini
bukan sukacita terpaksa. Bukan pula sukacita ala dunia. Inilah
sukacita asli yang daripada Roh Kudus.
Sebagai suami-istri, tekan, atasi dan tolak segala hal-hal kecil
yang bisa merampas sukacita dari kehidupan keluargamu. Jadilah
suami-istri yang kompak dan sepakat dalam menyelenggarakan
hidup (Mat. 18:19-20), dan bersukacitalah! Karena itu akan
membahagiakan hidup dan menyehatkan kita. Orang yang
bergembira alias bersukacita, dalam dirinya akan membentuk zat
endrophin yang menambah kekebalan tubuh. Ini adalah hasil
sebuah penelitian ilmiah-medis. Sebaliknya, orang yang penuh
dengan amarah dan persungutan dan kesedihan, akan mengurangi
metabolisme tubuhnya; zat adrenalin meningkat. Dalam beberapa
waktu kemudian, giginya akan tanggal. Kemudian berlanjut
dengan berkurangnya insulin. Mata juga cepat katarak dan telinga
cepat tuli. Otak cepat pikun. Anda mau seperti itu? Maka itu,
biarkan Roh Kudus mengambil alih hidupmu secara utuh, dan
bersukacitalah!
Ketiga: Roh Kudus Membimbing
Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus
mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. Dan setibanya di
Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak
mengizinkan mereka. Setelah melintasi Misia, mereka sampai di Troas.
Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang
Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya:
“Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!” Setelah Paulus melihat
penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke
Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa
Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orangorang
di sana. (Kis. 16: 6-10).
Pada saat sebagai manusia, Yesus sendiri pernah dibimbing
oleh Roh Kudus (Luk. 4:1). Akibat bimbingan itulah Yesus kuat
dan menang atas 3 godaan iblis, termasuk godaan konyol yang
meminta Yesus mengubah batu menjadi roti.
Ada seorang pemudi, berusia 22 tahun, datang kepada saya.
Ia minta saya berdoa agar ia mendapatkan jodoh. Sebelum berdoa
saya bertanya kepadanya, jodoh seperti apa yang ia mau.
Jawabannya membuat saya kaget. Dia menginginkan jodoh yang
wajahnya sama seperti Vic Chou, bintang film Taiwan yang
kesohor melalui film Meteor Garden itu. Nah, inilah permintaan
yang mengada-ada alias konyol. Tuhan dipaksa untuk
mengabulkan doa konyol ini. Pertanyaan saya adalah, apakah
Tuhan sanggup melakukan hal-hal kemustahilan semacam itu?
Terlalu amat sanggup kalau Tuhan mau. Kendati begitu Tuhan
tidak semau-mau-Nya. Dia berkuasa atas apa saja, tetapi tidak
mengobral kuasa-Nya dengan ngawur.
Perhatikan dalam Alkitab, sekali waktu pada saat yang sesuai
dengan kondisi, Yesus pernah menghilang di depan orang-orang
yang berbondong-bondong hendak menangkap-Nya. Yesus juga
pernah berjalan di atas air. Tetapi perhatikan pula, bahwa tindakantindakan
supra-alamiah tersebut hanya dilakukan-Nya sekali
dalam konteks yang sesuai dan proporsional. Tetapi sekarang ini
banyak pendeta yang mengeksploitasi dan mengumbar kuasa
Tuhan seolah-olah itu kuasanya sendiri. Ini salah besar! Pada
akhirnya, orang seperti ini bisa menjadi tuhan bagi jemaat.
Semakin menjadi parah lagi apabila jemaat mulai
mengkultuskannya, dan si pendeta menikmati pengkultusan itu.
Jika ada pendeta dan jemaat yang seperti ini, bertobat!
Suatu waktu, saya dalam perjalanan pulang dari Tangerang
menuju rumah saya di Kelapa Gading. Tidak biasanya, saya
merasakan kekuatiran begitu rupa seolah akan terjadi sesuatu
dalam perjalanan saya, sehingga saya tidak bakal sampai di rumah.
Apa yang harus saya perbuat, Tuhan? Roh Kudus jelas berkata
kepada saya: berdoa. Saya pun berdoa dalam bahasa Roh hampir
sepanjang perjalanan. Menjelang dekat dengan rumah saya, ketika
melintasi polisi tidur, saya merasakan keanehan di salah satu ban
mobil saya. Saya pun mampir di bengkel yang tak jauh dari situ.
Setelah diperiksa oleh mekaniknya, ternyata salah satu roda mobil
saya nyaris terlepas. Entah kenapa ada beberapa bagian yang rusak
parah. Saya pun mengerti, mengapa Roh Kudus membimbing
saya untuk berdoa dalam Roh. Kita butuh Roh Kudus selalu
membimbing kita dalam menjalani hidup ini.
Roh Kudus itu tidak keluar-masuk dari diri kita. Dalam
Perjanjian Lama memang tampak seperti itu, tetapi setelah
pencurahan Roh Kudus di loteng Yerusalem kepada para murid
yang setia menantikan janji Bapa (Kis. 1-2), Roh Kudus bersifat
menetap dalam diri orang percaya. Itu sebabnya, semakin buruk
kehidupan kita, semakin berdukalah Roh yang ada di dalam kita.
Janganlah kita mendukakan Roh Kudus!
Keempat: Roh Kudus Menguatkan
Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: “Hai pemimpin-pemimpin
umat dan tua-tua, jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu
kebajikan kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa
manakah orang itu disembuhkan, maka ketahuilah oleh kamu sekalian
dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang
Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah
dari antara orang mati—bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri
dengan sehat sekarang di depan kamu. Yesus adalah batu yang dibuang
oleh tukang-tukang bangunan—yaitu kamu sendiri—,namun ia telah
menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun
juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada
nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat
diselamatkan.” Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes
dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar,
heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus
(Kis. 4:8-13).
Dan setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan, supaya
sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus. Tetapi
Petrus dan Yohanes menjawab mereka: “Silakan kamu putuskan sendiri
manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat
kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkatakata
tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar” (Kis.
4:18-20).
Petrus tadinya seorang penakut. Namun, dalam urapan Roh
Kudus, ia berani berhadapan dengan Sanhedrin (Mahkamah
Agama Israel). Banyak orang Kristen sekarang menjadi penakut.
Berhenti menjadi pelayan Tuhan. Berhenti menjadi saksi Tuhan.
Ada banyak alasan yang kerap dimunculkan manakala muncul
maksud untuk berhenti melayani Tuhan, semisal: karena dipecat
dari pekerjaan. Diputusin pacar. Banyak masalah rumah tangga,
dsbnya. Ingatlah, bahwa baik atau tidak baik waktunya, kita harus
menyaksikan bahwa Yesus adalah Tuhan, karena masih banyak
orang yang belum percaya dan hidup bersungguh-sungguh dengan
Dia. Apapun profesi kita, semua kita harus menjadi saksi Tuhan.
Tuhan akan menguatkan kita yang lemah dan tak berdaya karena
berbagai masalah, demi kerajaan-Nya diperlebar melalui kita.




23 Maret 2010

Rahasia Kuat Rohani



Nats: I Samuel 3:7-11

7 Samuel belum mengenal TUHAN; firman TUHAN belum pernah dinyatakan
kepadanya. 8 Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya.
Iapun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: “Ya, bapa, bukankah
bapa memanggil aku?” Lalu mengertilah Eli, bahwa Tuhanlah yang memanggil
anak itu. 9 Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel: “Pergilah tidur dan apabila
Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini
mendengar.” Maka pergilah Samuel dan tidurlah ia di tempat tidurnya. 10 Lalu
datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah:
“Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini
mendengar.” 11 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Ketahuilah, Aku
akan melakukan sesuatu di Israel, sehingga setiap orang yang mendengarnya, akan
bising kedua telinganya.
Apakah faedahnya mendengarkan firman Tuhan? Dalam perikop
ini kita melihat bahwa Samuel belum mengenal panggilan Tuhan.
Atas ajaran imam Eli, Samuel kemudian mendengar Tuhan
memanggilnya, dan manakala ia merespon panggilan itu, Tuhan
pun berfirman kepadanya. Pada ayat 11 khususnya, ada kata
“Ketahuilah”. Ini sebenarnya kata keterangan sekaligus kata
petunjuk. Petunjuk supaya Samuel tahu akan rancangan Tuhan.
Memang, orang yang mendengarkan firman Tuhan akan tahu
rancangan Tuhan terhadap dirinya; keluarganya; masa depannya;
dan bahkan terhadap negaranya.
Banyak orang Kristen menjadi lemah karena mendengar suara
yang bukan dari Tuhan. Yang didengar suara orang fasik. Suara
setan. Suara dukun. Suara nafsu hati nuraninya. Makanya,
perbuatannya mengandung dosa yang menuju kebinasaan.
Orang yang mendengarkan suara Tuhan akan tahu apa yang
ia lakukan pada saat menghadapi masalah. Bukan hanya masalah
dia saja, tetapi hal-hal yang akan Tuhan kerjakan bagi dunia pun,
dia bisa memahami maknanya terlebih dahulu, sementara orang
lain masih diliputi kebingungan.
Berapa banyak waktumu yang terpakai untuk mendengarkan
suara Tuhan ketimbang suara keduniawian? Apakah saudara lebih
banyak menonton dan mendengarkan suara tv yang belakangan
ini penuh dengan berita malapetaka: gempa, tsunami, banjir, tanah
longsor dan kecelakaan transportasi, daripada mendengarkan
suara Tuhan? Orang-orang yang lebih banyak mendengarkan
suara dunia dan terpengaruh olehnya, adalah orang-orang yang
tidak mempunyai pegangan hidup. Umat Tuhan tidak boleh
seperti ini.
Kalau kita dekat dengan Tuhan dan mendengarkan suara-Nya,
itu indah. Suatu waktu, saya dan keluarga hendak bepergian.
Ketika hendak memasuki mobil, saya katakan kepada istri saya,
bahwa saya mau buang air dulu. Istri saya berkata, “Bagaimana
sih si papi, sudah mau pergi, pakai buang air segala”. Saya sempat
bimbang beberapa detik antara segera pergi atau buang air
terlebih dahulu. Hati saya sejahtera untuk menyelesaikan urusan
ke kamar kecil dulu. Beberapa menit saya di kamar kecil. Setelah
itu, begitu kami keluar hendak mengarah ke jalan raya, saya melihat
banyak pecahan kaca berserakan di jalan. Saya bertanya kepada
seorang hansip yang kebetulan berdiri di situ, apa gerangan yang
terjadi. Pak hansip mengatakan baru beberapa menit lalu ada
mobil yang menabrak tukang ojek. Mobil penabrak kemudian
dirusak massa. Perhatikan saudaraku, kalau saya lebih dahulu
melewati jalan itu, mungkin saya yang menabrak si tujang ojek.
Penundaan semacam itu, bagi kita anak Tuhan adalah bukan
kebetulan. Penundaan itu ada maksud Tuhan; kita terhindar dari
malapetaka dan kecelakaan. Kenapa bisa begitu? Karena saya
mendengar suara Tuhan; suara di hati saya yang lebih mendorong
saya untuk menunda sebentar rencana bepergian tadi.
Kata “ketahuilah” dalam ayat 11, berarti Tuhan hendak
memberikan petunjuk kepada Samuel. Tuhan bekerja sama dengan
Samuel di mana Tuhan sedang merancangkan sesuatu atas orang
Israel. Samuel menjadi kawan sekerja-Nya.
Kita harus mendengar suara Tuhan
Bagaimana mendengar suara Tuhan? Ketika saya berkhotbah anda
mendengar, maka anda sedang mendengarkan suara Tuhan.
Begitu pula jika anda sedang membaca firman Tuhan, maka pada
saat itulah anda sedang mendengarkan firman Tuhan. Jadi, tidak
ada celah dari nasehat yang bukan dari Tuhan merasuk dalam
pikiran dan hati kita.
Menjadi pengikut Kristus itu bukan main-main. Dibutuhkan
keseriusan. Saya sudah mendengar banyak kisah, bagaimana
orang datang kepada saya dan menyampaikan bahwa dia kecewa
dengan istri keduanya, yang dulu baik tetapi kemudian
mengabaikannya karena kini menganggur. Tidak demikian dengan
istri pertama yang selalu menerimanya apa adanya.
Saya juga beberapa kali mengambil mayat di rumah istri muda
yang tidak lagi mau mengakui bahwa itu suaminya. Benar memang,
ada uang abang disayang, tidak ada uang abang ditendang.
Firman Tuhan harus selalu kita dengar dan menguasai
kehidupan kita, supaya perilaku kita senantiasa sesuai dengan
firman itu. Itulah yang akan menjaga kita dari segala keinginan
untuk melakukan apa yang tidak diinginkan Tuhan. Firman yang
menguasai kita itu pulalah yang akan menahan kita untuk berzinah
dan kawin lagi, dan akhirnya memulai rentetan kisah pilu
sebagaimana yang tersebut di atas.
Membaca firman Tuhan
Dengan membaca firman Tuhan, timbul pertobatan (Neh. 1:7).
Nehemia dan Ezra adalah nabi yang bersama-sama berada disaat
orang Israel mengalami kekalahan berat dan tercerai berai.
Nehemia mulanya merasa bingung karena mengapa bangsa yang
disertai Tuhan ini kalah dalam perang dan menjadi lemah. Tetapi,
ketika membaca kitab Musa, mengertilah ia, bahwa bangsa ini
sudah berubah; tidak lagi setia kepada Allah. Apabila mereka
setia, maka Tuhan akan mengumpulkan mereka menjadi satu
kembali. Dengan membaca firman Tuhan, kita akan diingatkan
seberapa jauh kita telah meninggalkan-Nya.
Apabila kita tidak menerima informasi dari firman Tuhan,
maka yang akan masuk dalam pikiran dan hati kita adalah
informasi dari dunia. Sebab memang, suka atau tidak suka, di
sekitar kita ini akan memberikan input kepada kita, baik melalui
pendengaran, perasaan dan penglihatan.
Mamon juga bisa menutupi keberadaan kita dari suara Tuhan.
Karena alasan bisnis yang juga pemberian Tuhan, kita memberi
alasan argumentatif: Tidak ada waktu mendengar suara Tuhan.
Orang yang seperti ini adalah orang yang melupakan sumber
berkat-Nya, tetapi menguber berkat-Nya. Ini kurang ajar
namanya. Nanti, ketika sakit berat siapakah yang akan dimintakan
pertolongan? Uang kita tidak bisa menyembuhkan penyakit
kanker stadium 4. Penyakit ini tidak ada obatnya. Uang kita yang
banyak pun akan habis karena itu. Kita boleh sibuk dengan urusan
bisnis, tetapi kita harus tetap memberikan waktu kita
mendengarkan suara Tuhan; membaca firman-Nya. Hadirlah di
gereja setempat di mana kita berbisnis di luar kota.
Firman Tuhan ini harus dibaca setiap hari. Ini wajib
hukumnya! Tidak cukup hanya membaca firman Tuhan seminggu
sekali di gereja.
Menghafal firman Tuhan
Dalam Mazmur 119:11 dikatakan: Dalam hatiku aku menyimpan
janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. Dengan
menghafal firman Tuhan, kita tercegah dari perbuatan-perbuatan
dosa. Kalau sampai hari ini saya belum memukul orang, itu karena
saya menghafal firman Tuhan. Mengapa saya mengatakan
demikian? Karena, manusia, walaupun sudah 20 tahun bertobat,
karakter lama itu tidak hilang sepenuhnya, ia cuma ‘diam’ saja di
alam tidak sadar. Untuk diketahui, alam tidak sadar kita memonopoli
88% dan alam sadar 12% saja. Makanya, kalau kehidupan kita
yang dulu ‘kacau’, sekarang menjadi benar, itu tidak sepenuhnya
menjadi benar. Jika tidak menyerahkan diri sungguh-sungguh
dalam tuntunan Tuhan senantiasa, perilaku kacau itu bisa muncul
lagi.
Ada teman saya yang sudah 15 tahun tidak merokok. Suatu
waktu dia bertemu kembali dengan teman lamanya yang perokok.
Demi pertemanan, teman saya akhirnya merokok lagi bersama
karibnya itu. Yang terjadi kemudian, teman saya ini kembali
menjadi pemadat parah. Lebih parah dari 15 tahun lalu ketika
masih merokok.
Ada lagi kawan yang lain. Dulu mantan penjudi. Sudah
bertobat. Dua puluh tahun meninggalkan meja judi. Suatu ketika
dia dan keluarganya pindah rumah di wilayah lain. Demi untuk
menghargai ajakan warga, ia pun mengambil bagian dalam
pertandingan kartu dalam rangka 17 Agustus. Karena dia menang
terus dan jadi pemenang, dia diajak untuk bermain judi lagi. Dari
taruhan kecil sampai besar. Akhirnya, dia menjadi penjudi lagi.
Dulu 9 tahun saya belajar ilmu kebatinan. Ilmu itu membuat
saya percaya diri, sehingga suka berkelahi. Orang yang mencoba
melawan saya akan bertekuk lutut sebelum bisa berbuat apa-apa.
Ini adalah karakter lama yang tersimpan di alam bawah sadar
saya. Itu bisa muncul lagi.
Latar belakang kita tidak karuan semua. Kita semua pendosa
(Rm. 3:23). Dalam berkendara, sering emosi kita terpancing
karena perilaku pengendara lain yang merugikan kita. Kalau
bukan karena firman Tuhan yang kita hafal, kita mungkin sudah
kejar-kejaran dijalanan dan lalu baku hantam di tengah jalan ala
film hollywood.
Rasul Paulus pun ingin berbuat baik, tetapi yang jahat yang ia
ingin perbuat. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik,
yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang
jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku
kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang
diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku
menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku (Rm.
7:19-21). Mengapa bisa begitu? Karena kedagingan kita selalu
berusaha mengalahkan kerohanian kita.
Firman Tuhan yang dihafal itulah yang akan meredam
menguatnya karakter lama kita. Ketika perilaku buruk itu
mencoba kembali, firman Tuhan yang sudah dihafal itu akan
teringat di hati; firman itu akan otomatis mencegah kita mengikuti
kemauan perilaku tersebut. Celaka jadinya kita, jika tidak
menghafal firman-Nya!
Merenungkan
Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi
renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati
sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian
perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung (Yos 1:8).
Merenungkan firman Tuhan seperti anda berjalan di jalan tol,
dengan merenungkan jalan-jalan mana yang harus dilalui – yang
mana yang lurus yang mana yang berbelok. Andai anda mencoba
berjalan di jalan tol dalam keadaan merem 1 menit saja, begitu
anda sadar, anda sudah di rumah sakit bagian instalasi gawat
darurat. Beruntung jika anda masih hidup…
Merenungkan firman Tuhan itu membuat kita waspada.
Waspada, karena iblis menyamar seperti malaikat terang. Kita
tidak boleh tertipu olehnya. Oleh karena itulah, betapa pentingnya
merenungkan firman Tuhan itu siang dan malam.
Perenungan yang baik itu seperti binatang yang memamah biak
(sapi dan kambing). Pada waktu dilepas di padang mereka mencari
makan. Tetapi makanan yang menjadi energi dan susunya adalah
ketika ia makan di kandangnya, yaitu makanan tadi yang
dikeluarkannya – dikunyah, diperhalus dan dimakan lagi. Itulah
yang menjadi sumber energi bagi sapi atau kambing itu. Begitu
pula dengan kita, dalam konteks mendengarkan firman Tuhan di
gereja. Barangkali kita terganggu dengan orang yang berisik di
samping kita, maka sesampai di rumah, bacalah dan renungkanlah
kembali firman itu. Atau, ketika mendengarkan khotbah pendeta,
ada bagian-bagian ayat tertentu yang tidak kita pahami, maka
bacalah dan renungkan kembali firman Tuhan tersebut di rumah.
Sempatkan waktu untuk melakukan hal ini segera dalam beberapa
menit saja, karena jika tidak, anda akan mengisi waktu dengan
urusan bersantai di rumah, tidur atau bahkan bertamasya. Maka,
kebanaran firman Tuhan itu akan lewat, dan tidak akan menjadi
rhema dalam hidupmu. Hal seperti inilah yang membuat banyak
orang Kristen tua di gereja, tetapi sangat kerdil rohaninya.
Melakukan firman Tuhan
Semua bagian yang kita bahas ini penting, dan klimaks dari
pembahasan kita adalah yag kelima ini.
Saya mempunyai teman pendeta. Orang ini luar biasa karena
kalau berkhotbah tidak menggunakan alkitab. Dia hafal semua
ayat hingga ke titik komanya. Luar biasa. Barangkali, dia
membawa alkitab hanya etika saja sebagai pendeta. Saya kagum
dengan orang ini. Karena penasaran, saya bertanya kepadanya
perihal rahasia beliau sehingga bisa seperti itu. Dia memberi
jawaban, bahwa dia sudah membaca alkitab sampai habis 50x.
Pantas saja.
Namun, tak berapa lama kemudian saya mendengar kabar,
bahwa hamba Tuhan yang luar biasa ini, melakukan kesalahan
yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang pendeta.
Sayang disayang, hamba Tuhan yang luar biasa ini lengah dan
membuka celah, yang kemudian menjadi fatal akibatnya.
Saudaraku, jangan sekalipun memberikan kesempatan kepada
iblis; jangan buka celah untuk dia menguasai kita sedikit pun dan
sedetik pun.
Saya juga tidak kebal dengan situasi seperti itu. Tetapi dengan
firman Tuhan dan doa, saya akan kuat menghadapinya.
Dengar, baca, hafal, renungkan dan lakukanlah firman Tuhan
dengan disiplin dan konsisten, maka niscaya kelas rohani kita akan
semakin naik; bertambah dewasa dalam Tuhan, dan cakap
menanggung segala perkara.





12 Maret 2010

3 Peran Allah



Nats: Ulangan 30:19-20

19 Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini:
kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah
kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, 20 dengan
mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya,
sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang
dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada
Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.”
Nats di atas sebenarnya merupakan bagian dari perkataan
perjanjian yang disampaikan Musa kepada bani Israel sewaktu
mereka berada di tanah Moab. Perkataan perjanjian tersebut dapat
menjadi pelajaran yang sarat makna rohani bagi kita, umat Tuhan
dewasa ini.
Dari nats di atas, kita dapat belajar tentang 3 peran Allah untuk
kebaikan kehidupan kita di dunia ini, dan bahkan untuk kehidupan
kekekalan bersama-Nya kelak. Mari kita telusuri satu demi satu.
Peran yang pertama: Allah memperhadapkan kita untuk
memilih. Perhatikan pada ayat 19, di sini Tuhan memberikan
kepada kita dua pilihan ekstrim: memilih berkat atau memilih
kutuk. Tentu saja kita akan memilih berkat bukan kutuk. Sebab,
siapa yang mau dikutuk dan menjadi orang terkutuk? Bahkan
orang bodoh sekalipun tidak mau memilih dikutuk – semua orang
mau diberkati – kaya materi – dan masuk sorga. Tetapi sungguh
ironis, ada banyak orang Kristen yang hidup seperti orang yang
sedang kena kutuk. Di mana kehidupan mereka diliputi oleh ruparupa
kesengsaraan. Oleh mereka, Tuhan kerap dianggap sebagai
arsitek dari semua derita yang dialami; Tuhan diposisikan sebagai
sang pemberi pencobaan. Akan hal ini, alkitab dengan tegas dan
jelas mengatakan bahwa Tuhan tidak mencobai siapapun, iblislah
yang mencobai manusia (Yak. 1:14-15).
Orang Kristen yang membiarkan dirinya dicobai dan
kemudian ditunggangi oleh iblis adalah orang Kristen yang
memilih kutuk. Orang-orang seperti ini bukanlah tidak tahu akan
kebenaran Tuhan. Tetapi pemuasan keinginan dirinya sendiri telah
menjadi yang utama ketimbang kebenaran itu. Ia terus jatuh, dan
jatuh lagi dalam berbagai dosa.
Dikuasai atau ditunggangi iblis bukan hanya terlihat kasat mata
seperti manifestasi orang yang sedang kerasukan yang disertai
dengan ciri-ciri mata memerah, badan bergetar hebat dan
berteriak-teriak, karena orang yang mementingkan keinginannya
sendiri, dan lalu mengabaikan pekerjaan Tuhan pun juga telah
dikontrol oleh iblis. Contoh riil akan hal ini dapat dilihat dalam
Matius 16:22-23, yang mengisahkan bagaimana Petrus mencoba
menahan maksud Yesus untuk pergi ke Yerusalem untuk
mengalami banyak penderitaan di sana. Dalam hal ini Petrus
tampak seperti seorang murid yang membela gurunya. Namun,
hardikan Yesus memperlihatkan kepada kita, bahwa iblis telah
mengintervensi pikiran dan hati Petrus. Dengan kata lain, pikiran
dan perasaan Petrus telah disusupi oleh iblis.
Mari cek dan ricek kehidupan kita masing-masing, sejauh
manakah intervensi iblis dalam benak intelektual kita. Kita harus
memiliki kepekaan untuk ini. Tetapi, bagaimana kepekaan ini bisa
kita miliki untuk menjadi parameter, kalau kita sendiri tidak hidup
melekat dengan Tuhan.
Dalam Galatia 6:7, dikatakan: “Jangan sesat! Allah tidak
membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu
juga yang akan dituainya”. Siapa yang menabur dia yang akan
menuai. Jadi, jangan kita menyalahkan Tuhan ketika derita kita
alami, padahal derita itu bermula dari perbuatan dosa kita sendiri.
Allah menghadapkan pilihan, dan kita yang memilih. Maka,
bertanggungjawablah dengan apa yang kita pilih.
Peran yang kedua, Allah menyarankan. Masih pada ayat 19,
dikatakan bahwa Allah menyarankan manusia untuk memilih.
Betapa baik dan hebatnya Tuhan kita. Betapa tidak, karena Dia
menghadapkan pilihan sekaligus menyarankan pilihan yang
terbaik, yaitu pilihan kehidupan untuk hidup.
Saran Allah pastilah yang terbaik. Akan menjadi indah hidup
ini jika kita menuruti saran-Nya. Salah satu saran Allah supaya
kehidupan kita menyenangkan hati-Nya adalah hidup oleh Roh.
Firman Tuhan berkata: “… Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak
akan menuruti keinginan daging” (Gal. 5:16). Hidup oleh Roh akan
membuat kita mampu menekan segala perbuatan kedagingan.
Apa sajakah perbuatan daging itu? Alkitab berkata: “Perbuatan
daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan
berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri
sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora
dan sebagainya” (Gal. 5:19-21). Kata “dan sebagainya” di sini hendak
menyingkat daftar perbuatan dosa yang teramat banyak itu.
Jika kita dipimpin oleh Roh, maka perbuatan-perbuatan dosa
tidak akan kita lakukan. Ada perasaan jijik dan rasa malu jika
hendak berbuat dosa. Saudaraku, betapa enak hidup ini jika kita
dipimpin oleh Roh Tuhan, karena kita akan kuat di dalam Dia.
Kuat dalam hal apa? Contohnya begini, jika pipi kiri kita
ditampar, kita bersedia memberi lagi pipi kanan – tetapi sekali
lagi, ini karena Roh ada dalam kita. Namun, tidaklah demikian
jika kita hidup dengan jiwa saja – ini menjadi tidak enteng – karena
siapa yang mau ditampar gratis? Kalaupun ada yang mau, pastilah
menuntut balas yang lebih sadis.
Ada orang yang sudah 4 tahun bertobat, tetapi selama itu
pulalah ia disibuki dengan merubah posisi tangga menuju ke lantai
dua rumahnya. Tangganya berubah posisi beberapa kali, hanya
karena ia menuruti keinginan dewa di kepercayaannya yang lama.
Repot sekali hidup orang ini. Orang seperti ini dipermainkan
setan. Kasihan! Biarlah kita dipimpin oleh Roh, supaya kita dapat
menuruti saran Tuhan, bukan saran iblis.
Pilihan kehidupan sudah Tuhan sarankan kita pilih, tetapi
masih banyak orang Kristen yang memilih jalan kematian. Sadar
atau tidak sadar, atau tidak mau sadar, banyak orang Kristen
yang membangun jalan kematian kekalnya: neraka kekal. Mereka
lebih memilih jodoh yang tidak seiman daripada Yesus. Memilih
pergi ke dukun dan paranormal ketimbang sabar meminta
pertolongan dari Tuhan. Sebenarnya, kita harus bangga, karena
kita bukan sekadar disarankan untuk memilih, tetapi kita terlebih
dahulu telah dipilih oleh Tuhan untuk menjadi umat kesayangan-
Nya (Yoh. 15:16). Oleh karena itulah, saya tidak akan mungkin
menjual Yesus dengan apapun dalam keadaan bagaimanapun.
Saudaraku, kita sudah dipilih oleh Tuhan, jadi kita tidak
mungkin dibiarkan-Nya menghadapi badai hidup ini sendirian.
Dalam susah dan bahagia, Dia akan selalu menyertai saya dan
saudara. Di dalam I Samuel 12:22, dikatakan bahwa Tuhan Allah
tidak akan pernah membuang kita oleh karena nama-Nya yang
besar. Luar biasa makna rohani ayat ini, di mana nama Tuhan
dipertaruhkan demi untuk membela saya dan saudara. Sungguh,
betapa berharganya kita di hadapan Tuhan. Masihkah kita tega
mengkhianati-Nya?
Peran yang ketiga, Allah memberikannya kepada mereka.
Dalam ayat 20 nats di atas, Allah memberikan 3 cara agar orang
Israel beroleh tanah yang dijanjikan-Nya kepada mereka. Bagi
kita, umat Tuhan dewasa ini, 3 cara ini berarti 3 cara untuk sampai
ke sorga. Tiga cara tersebut adalah:
Pertama, kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu,
jiwamu dan akal budimu. Firman Tuhan ini hendak menerangkan
bahwa tidak ada tempat bagi iblis, karena totalitas kehidupan
kita hanya untuk Tuhan. No place for devils. Tidak hanya itu,
mengasihi Tuhan secara total, otomatis akan membuat kita
mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Inilah kristalisasi
dari alkitab: kasih terhadap Allah dan kasih terhadap sesama.
Kalau kita mengasihi Allah, maka melakukan perintah-Nya
bukanlah suatu beban. Kita akan melakukan perintah Tuhan
dengan tulus, jikalau kita benar-benar mengasihi Dia (Yoh. 14:15).
Kedua, mendengar suara Tuhan. Firman Tuhan berkata,
domba-domba-Ku mendengar suara-Ku. Ingat, iman itu timbul
dari pendengaran, dan pendengaran akan firman Kristus. Dalam
bagian lain dikatakan: Barangsiapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!
(Why. 13:9). Iman kita jangan tergoyahkan oleh apa yang saya
sebut dengan suara-suara yang ‘bindeng’ alias segala dalil yang
melemahkan iman. Suara-suara bindeng ini yang selalu meragukan
kuasa Allah. Sebagai umat pilihan Tuhan, kita hanya
mendengarkan suara Tuhan, bukan yang lain. Itulah sebabnya,
kita harus senantiasa membaca firman Tuhan, ‘suara’ yang asli;
suara yang benar.
Ketiga, berpaut kepada-Nya. Artinya tumpang tindih tepat.
Orang yang tidak berpaut kepada Kristus, perbuatannya tidak
sedap dilihat. Hal ini sama dengan sebuah hasil cetakan full color,
yaitu jika perwakilan masing-masing warna (Cyan, Magenta,
Yellow, Black = CMYK) yang membentuk suatu image atau artwork
meleset sedikit saja dari posisi yang semestinya, maka hasil
cetakannya menjadi tidak bagus dan tidak sedap dipandang mata.
Kalau kita tidak berpaut dengan Tuhan, maka kita akan meleset
jauh dari kebenaran-Nya. Jangan ada gambaran setan dalam
kehidupan kita. Keberadaan kita harus menjadi berkat. Dengan
kata lain, kita menjadi seperti Kristus dalam berperilaku.
Seorang petani tahu betul kapan dia akan panen. Namun,
sebelum itu terjadi, tentu saja dia mesti terlebih dahulu menanam
bibit padinya. Hari ini tanamlah keinginanmu untuk
menyenangkan Tuhan; tentukan pilihan untuk memilih berkat dan
kehidupan, niscaya kita punya hidup akan lebih hidup – maka
sorga menjadi sebuah keniscayaan bagi kita.






02 Maret 2010

Bukan Cuma Beribadah



SETELAH cukup lama terbiar kosong, di sebelah rumah saya, kini
ada penghuni baru. Tetangga baru ini, pagi-pagi sudah melakukan
ritual kepercayaannya. Mudah bagi saya untuk mengetahui
kepercayaan yang dianutnya. Mudah, karena ada aroma khas yang
tercium manakala ritual kepercayaan itu dimulai. Ritual yang dulu
saya lakukan. Tetangga saya ini sangat konsisten dalam menjalankan
kepercayaannya. Tetapi, sampai dengan saat ini dia sangat tertutup.
Tertutup dengan lingkungan sekitar. Tidak mau bergaul. Tidak
bersosialisasi. Banyak orang Kristen seperti itu. Keimanan terhadap
Yesus hanya untuk pribadi. Minim, bahkan tidak ada bukti praktik
keimanan kepada sesama dalam arti luas. Orang-orang seperti ini
bisa jadi aktif bergereja; bebas-merdeka memuji dan beribadah.
Rela memberi persembahan rupa-rupa. Giat ke sana ke mari,
berbuat ini-itu untuk kemajuan pelayanan gereja (untuk Tuhan
katanya). Namun, seperti tetangga saya, si aktif bergereja ini tidak
dikenal dan mengenal lingkungannya. Beginikah mutu sejatinya
orang yang rajin beribadah?
Menyoal ciri-ciri sebenarnya orang yang beribadah, Yesus adalah
contoh yang pas. Simak beberapa ayat berikut: Setibanya di tempat
asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka
takjublah mereka dan berkata: “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan
kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak
tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-
Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara42
Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-
Nya semuanya itu?” (Mat. 13:54-56). Orang-orang yang berada di
rumah ibadah di kampung halaman Yesus, Nazaret, mengenal Yesus
dengan baik. Mereka tahu latar belakangnya, orang tuanya, dan
saudara-saudaranya. Secara implisit, ayat-ayat tersebut menjelaskan
kepada kita, bahwa Yesus dan keluarganya dikenal; mereka tidak
anti sosial; mereka bergaul dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Di usia 30 tahunan – usia matang seorang laki-laki Yahudi dan
kebanyakan budaya timur; Yesus memulai misi-Nya. Diawali-Nya
dengan menghadiri Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang
diadakan oleh Yohanes Pembaptis, bertempat di padang gurun,
daerah Yordan. Yesus tidak kuper (kurang pergaulan). Ia mengikuti
informasi dan menjalin komunikasi.
Di sela-sela jadwal pelayanan-Nya yang padat, Yesus
menyempatkan diri bertemu dengan para nelayan – strata
masyarakat rendah – beberapa di antara mereka menjadi murid-
Nya. Yesus berdialog, dan lagi-lagi menjalin komunikasi. Yesus
mulai dikenal.
Tidak tanggung-tanggung, dalam melayani sekaligus
bersosialisasi, Yesus bahkan mau didekati oleh penderita kusta –
suatu penyakit yang kala itu berkonotasi kutukan dari Allah – karena
pada waktu itu belum ada obatnya. Di jaman Musa, penderita kusta
harus tinggal jauh dari perkemahan warga. Mereka diasingkan.
Apabila dalam suatu kondisi terpaksa bertemu dengan orang sehat,
mereka harus selalu berteriak: “Najis! Najis!”. Penderita kusta,
bukan sekadar menderita fisiknya, tetapi juga psikisnya. Lahir-batin
menderita. Yesus Kristus mau didekati penderita kusta, dan bahkan
mau menjamahnya. Padahal, bagi masyarakat Yahudi waktu itu,
tindakan menjamah tersebut adalah haram hukumnya. Luar biasa,
Yesus kita ini! Maka, semakin populerlah Yesus dengan segala
perbuatan konkrit-positif yang dilakukan-Nya.
Tidak cukup dengan semua itu, Yesus juga menjumpai seorang
pemungut cukai, Lewi. Ia kemudian duduk makan bersama temanteman
seprofesi Lewi. Hal ini membuat gusar para ahli Taurat dan
orang Farisi – golongan ningrat dalam strata masyarakat Yahudi –
mereka bak kebakaran jenggot melihat sikap Yesus. Mereka protes
keras perihal tindakan Yesus tersebut. Betapa tidak, karena di jaman
itu, pemungut cukai dianggap sebagai antek Romawi, karenanya
najis untuk bergaul dengan mereka.
Yesus bertindak lebih jauh lagi. Ia khusus datang ke Gerasa,
daerah di seberang Galilea untuk bertemu dengan seorang yang
telah lama dirasuk setan. Orang ini terkucil. Tidak ada teman.
Loneliness. Ditakuti. Madesu (masa depan suram). Barangkali,
kematian adalah yang terbaik untuk orang ini. Tidak berlama-lama,
Yesus membebaskan orang ini dari semua predikat negatif tersebut.
Harapan orang ini pun timbul. Dalam konteks ini, Yesus menjadi
solusi dan memberi inspirasi.
Yesus tidak hanya menjalin hubungan dengan masyarakat kelas
bawah. Ia pun berkomunikasi dengan golongan ningrat Yahudi, para
ahli Taurat dan orang Farisi. Yesus juga duduk makan bersama
mereka. Tetapi peluang kedekatan hubungan itu tidak lantas
membuat Yesus kehilangan prinsip dan jati diri. Ia tidak menjadi
sama dengan perbuatan mereka yang penuh kemunafikan. Ia
menegur dan meluruskan segala praktik salah kehidupan agamawi
mereka.
Rekam jejak pergaulan Yesus yang luas, berakhir dengan dua
orang penjahat yang dihukum mati bersama-sama dengan-Nya.
Salah satu di antara penjahat itu beroleh kepastian keselamatan
kekal di saat-saat terakhir helaan napasnya. Luar biasa! Menjelang
ajal menjemput pun, Yesus masih mau bersosialisasi, berkomunikasi
dan mengubahkan hidup orang lain menjadi berarti.
Bukan Cuma Beribadah
Sama seperti kita, Yesus sangat rajin beribadah bahkan
melayani. Aktivitas rohaninya yang banyak tidak membuat-Nya
mengabaikan apa yang semestinya dilakukan setiap hari: menjalin
hubungan yang tulus dengan siapapun, kapanpun, dan di manapun.
Beribadah dan bersosialisasi mestinya seiring sejalan. Itulah jalan
untuk menjadi saksi Kristus yang sejati.



20 Februari 2010

Bukan Kekuatan Kata



Nats: I Korintus 4:20

20 Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa.
SURAT kepada jemaat di Korintus ditulis oleh Rasul Paulus di
kota Efesus pada kira-kira tahun 57 M. Di kota Korintus berdiri
dengan megah kuil Venus (Aphrodite). Di dalam kuil tersebut
terdapat sekitar 1000 wanita yang melakukan praktik prostitusi
atas nama pemujaan terhadap dewa. Besarnya pengaruh negatif
kuil tersebut memunculkan istilah yang populer pada masa itu:
corinthianize, yang diartikan dengan: “praktik prostitusi dan pesta
pora”. Itulah sebabnya, Paulus bekerja ekstra keras di kota ini. Ia
harus melepaskan penduduk kota ini dari cara hidup mereka yang
masih memegang tradisi lama, yakni kepercayaan terhadap dewa-dewa,
praktik kemaksiatan secara bebas, pesta pora, dll. Di samping
itu, Paulus juga mesti menghadapi dua pewarta lain yang sama-sama
membawa nama Kristus sebagai subyek pewartaan. Mereka
adalah: Apolos (filsuf Yahudi dari Alexandria) dan Kefas (Petrus);
mereka mendirikan faksi-faksi umat Kristen yang terpisah dari
Paulus. Pengaruh keduanya kemudian membuat jemaat Korintus
terbagi menjadi tiga golongan: Ada golongan Paulus, Apolos dan
Petrus (I Kor. 1:12). Apolos dan Petrus merupakan pendukung
setia ajaran Yahudi – hal ini bertentangan dengan ajaran Paulus.
Paulus menekankan bahwa di dalam Kristus, semua adalah sama
dan satu di dalam Dia (I Kor. 12:13).

Dalam rangka misi pewartaan Kristus di Korintus, Rasul Paulus
tidak hanya menghadapi beberapa tantangan besar seperti tersebut
di atas. Ia juga menghadapi internal affair: tantangan dari dalam
jemaatnya sendiri. Tantangan ini jauh lebih berat.
Jemaat Korintus adalah jemaat yang didirikan oleh Paulus pada
perjalanan misinya yang kedua (Kis. 18:1-18). Oleh karena itulah
Paulus menyebut dirinya sebagai bapa rohani mereka (I Kor. 4:15).
Namun kemudian, di dalam jemaat ini, muncul beberapa orang
yang menjadi sombong (I Kor. 4:18). Dalam suratnya, Paulus
menyoroti mereka – ia ingin bertemu dengan mereka. Apa
sebenarnya yang mereka sombongkan? Orang-orang ini
menyombongkan perkataan mereka. Perkataan tentang apa? Jika
kita menelaah I Korintus 4:18-21, dapat ditarik kesimpulan, bahwa
orang-orang tersebut menyombongkan “pemahaman dan
pengetahuan” mereka tentang firman. Jemaat Korintus dikenal
sebagai jemaat yang mempunyai banyak karunia rohani (I Kor. 12).
Dalam kaitan itu, Paulus juga menulis: Sebab di dalam Dia kamu
telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan
segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang
telah diteguhkan di antara kamu. Demikianlah kamu tidak kekurangan
dalam suatu karuniapun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan
kita Yesus Kristus (I Kor. 1:5-7). Jadi sekali lagi, orang-orang tersebut
merasa telah ‘kaya’ dengan segala macam perkataan dan
pengetahuan tentang firman. Terhadap hal itulah, Paulus dengan
tegas mengatakan: Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan,
tetapi dari kuasa. Dalam alkitab berbahasa Inggris (English Amplified
Bible = Easy English Bible), ayat tersebut ditulis: For the kingdom of
God consists of and is based on not talk but power (moral power and excellence
of soul). Perhatikan kata-kata dalam tanda kurung: moral power and
excellence of soul. Kata-kata tersebut dapat diterjemahkan dengan:
“kekuatan moral dan keunggulan jiwa”. Hal ini semakin diperjelas
lagi dengan terjemahan alkitab bahasa Indonesia sehari-hari (BIS),
yang berbunyi: Karena kalau Allah memerintah hidup seseorang, hal itu
dibuktikan oleh kekuatan hidup orang itu, bukan oleh kata-katanya.
Menjadi jelas, bahwa orang beriman, sejatinya bukan sekadar
paham betul firman Tuhan; bukan cuma fasih firman. Lebih
daripada itu, orang beriman yang asli adalah orang yang memiliki
gaya hidup bermoral tinggi; mempunyai integritas yang kuat. Kata
“integritas”, menurut Webster’s Third International Dictionary (1981),
Oxford Dictionary (1963), dan An English-Indonesian Dictionary, by John
M. Echols and Hassan Shadily (1975). Dijelaskan bahwa: Integrity
artinya wholeness, mengenai “keseluruhan”; uprightness dan honesty,
artinya “ketulusan hati” dan “kejujuran”. Dijelaskan pula, bahwa
integrity itu berarti: an uncompromising adherance to a code of moral,
artinya: dedikasi yang tak tergoyakan terhadap kode moral.
Pengikut Yesus yang merasa telah memahami banyak firman
dan menjadi sombong karenanya, bukan hanya ada di jaman Paulus
– orang Kristen model begini banyak pula terdapat di gereja Tuhan
masa kini. Sadar atau tidak (faktanya: kebanyakan mereka sadar),
orang-orang seperti itu menganggap diri sudah rohani, bahkan paling
rohani di ‘lingkungannya’. Jemaat lain di sekitar mereka yang
memperhatikan, kemudian menyebut mereka sebagai ‘orang yang
sombong rohani’. Istilah ini menjadi populer di kalangan jemaat.
Sebenarnya, istilah “sombong rohani” ini tidak tepat. Tidak tepat,
karena orang sombong tidak bisa menjadi rohani (yang sejati). Ia
mungkin bisa menjadi rohaniwan (sekadar sebagai status/
kedudukan gerejawi), tetapi tidak pernah bisa menjadi rohani yang
sesungguhnya. Sebaliknya, orang yang rohani tidak boleh ada
kesombongan – bukan tidak bisa sombong, tetapi sejatinya, orang
rohani tidak boleh sombong; ia pasti selalu berusaha merendahkan
dirinya (I Kor. 13:4). Ia tahu diri. Ia tahu Tuhan; tanpa Tuhan, ia
sadar, ia bukan apa-apa.

Kesombongan dalam bentuk apapun, itu sangat ditentang oleh
Tuhan (I Sam. 2:3; Ams. 6:16-17). Kesombongan adalah kejahatan.
Kesombongan adalah dosa. Kesombongan itu sejajar dengan dosa
perzinahan, percabulan, iri hati, dll (Mrk. 7:21-23).
Orang yang rohani tidak akan menunjukkan ‘kekuatan’ berkata-kata
dan prilaku yang didasari kesombongan; karena dengan
sendirinya, di manapun ia berada, ia akan menampilkan ‘kekuatan’
cara hidup yang menyukakan hati orang-orang di sekitarnya.
Totalitas dirinya menampakkan segala praktik hidup yang bermoral
tinggi yang didasari ketulusan hati dan kejujuran. Keberadaannya
akan selalu ditunggu. Ketiadaannya akan selalu dirindu. Alangkah
indahnya lingkungan di mana kita ada, jika mendapati diri kita dan
orang lain berkualitas hidup sedemikian itu. Jika begitu adanya,
maka bila Anak Manusia itu datang, Ia akan mendapati iman di
bumi.












09 Februari 2010

Kecewa, Untuk Apa?




Nats: Matius 11:6


6 Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”

KECEWA, oh semua orang pernah mengalaminya, bahkan mungkin

kini sementara dialami oleh anda. Menurut www.wikipedia.org,

kecewa berarti: “tidak puas”, “tidak senang” atau “berkecil hati”.

Dari definisi ini, jelas bahwa sulit memang untuk tidak kecewa.

Makanya ada orang bilang, kecewa itu manusiawi; sah-sah saja.

Nats di atas adalah perkataan Yesus perihal kecewa. Tuhan

Yesus berkata, berbahagialah orang yang “tidak menjadi kecewa”.

Dengan kata lain, sangat bisa sebenarnya untuk tidak perlu kecewa.

Konsep kebanyakan bilang, kecewa itu sah-sah saja, tetapi Tuhan

Yesus menekankan untuk tidak menjadi kecewa; tidak mesti

kecewa; tidak harus kecewa.

Sebenarnya, ketika kita merasa kecewa terhadap siapapun dan

apapun, itu berarti kehidupan kita sangat bergantung kepada yang

mengecewakan itu. Inilah sebabnya yang membuat manusia sangat

rapuh dengan kekecewaan. Mudah kecewa, akhirnya menjadi tidak

produktif, pasif dan kehilangan inisiatif.

Apabila anda meletakkan harapan kebahagiaan, kenikamatan

dan kesenangan hidupmu kepada seseorang (isteri, suami, anak,

kerabat, teman, pendeta, dan siapapun), maka anda akan ‘menuntut’

mereka untuk wajib memberikan kebahagiaan itu. Jika mereka tidak

dapat memenuhi harapan anda itu, maka anda pun kecewa. Sampai

di sini membaca tulisan ini, mungkin anda merasa hal ini biasabiasa

saja, tetapi anda tahu, sikap dan suasana hati yang kecewa,

berarti masih ada ‘berhala’ lain dalam anda menyelenggarakan hidup

selama ini. Berhala lain itu berwujud manusia: Istri, suami, anak,

mertua, orang tua, pendeta, teman, dll. Sadarkah anda kini?

Temukan ‘berhala’ itu dan robohkanlah!

Beberapa jam sebelum disalibkan, para murid Yesus begitu

berapi-api menegaskan tekad untuk setia sampai mati di sisi Yesus.

Kenyataannya, mereka kabur menyelamatkan diri masing-masing

manakala Yesus ditangkap. Ketika Yesus disalibkan pun, tidak

semua murid datang melihat; yang ada pun berdiri jauh-jauh.

Apakah Tuhan Yesus kecewa? Tidak. Wajarkah jika Tuhan Yesus

kecewa? Sangat wajar. Namun, Tuhan Yesus tidak kecewa sama

sekali. Inilah yang membedakan kita dengan-Nya. Bukan karena

Dia Tuhan. Ingat, pada waktu Yesus hidup dan melayani di tanah

Palestina dan sekitarnya itu, naturnya adalah manusia bukan dewa.

Jadi, Dia pun bisa kecewa; kecewa dengan ulah para murid yang

pengecut itu – harusnya. Tetapi, Yesus tidak menjadi kecewa. Apa

sebabnya demikian?

Pertama, Yesus tahu, bahwa rencana Allah harus digenapi di

dalam Dia dan melalui Dia, agar umat manusia beroleh jaminan

keselamatan kekal apabila percaya kepada Allah. Ini penting bagi

kita! Penting, karena tanpa kita menyadari maksud eksistensi kita

ada di dunia ini, kita akan mudah menjadi kecewa dengan apapun,

siapapun, di manapun dan sampai kapanpun.

Anda dan saya diciptakan Tuhan dengan maksud mulia. Kita

ada di sini, hari ini, di bumi ini, dengan suatu tujuan khusus dan

mulia. Tidak ada anak haram dalam pemandangan Allah; itu

sebutan manusia yang mereduksi nilai mulia seorang manusia. Kita

semua sama dalam pemandangan Allah. Kita diciptakan menurut

gambar dan rupa Allah. Kita sama derajatnya sebagai manusia,

subyek dan obyek Allah untuk rencana-Nya. Kita hanya berbeda

dalam proses dan cara lahir, pertumbuhan, fasilitas hidup dan

kesempatan. Selebihnya, semua kita sama berharganya di hadapan

Tuhan. Jadi, menyadari betapa bernilainya anda dan saya bagi

Tuhan, maka kita tidak harus menjadi kecewa apabila apa yang

kita harapkan dari Tuhan tidak terkabulkan. Sebab, hidup yang

Tuhan anugerahkan ini sudah lebih dari cukup untuk dinikmati

dan dijalani. Kita malah bersyukur semestinya, karena Tuhan mau

memakai kita sebagai rekan sekerja-Nya; menjadi subyek bagi

keselamatan manusia yang lain.

Kedua, Yesus hidup dalam realita. Yesus realistis, bahwa para

murid-Nya sedang dalam pertumbuhan rohani yang belum matang.

Hal ini membuat Yesus tidak kecewa terhadap satu pun murid-

Nya yang meninggalkan Dia justru di saat genting. Setelah bangkit,

Yesus berinisiatif menemui para murid-Nya. Petrus khususnya, yang

menyangkal Dia, tidak lantas menjadi bulan-bulanan amarah-Nya.

Yesus malah menguatkan hati Petrus, dan memintanya untuk

menggembalan domba-domba-Nya. Yesus mengobati sendiri

kekecewaan Petrus karena menyangkal Sang Guru.

Realistislah, orang-orang di sekitarmu bukanlah manusia super.

Suamimu banyak kelemahannya. Istrimu memang selalu

menyebalkan. Anakmu selalu saja melawan. Pacar tiap waktu

menjengkelkan. Pendetamu juga mengecewakan. Mereka semua

tidak akan memberikan kebahagiaan dan kesenangan kepadamu,

karena mereka tidak sempurna, dan mereka sendiri pun sedang

mengejar kebahagiaan dan kesenangan itu. Mereka bukan sumber

kebahagiaan. Bodoh dan rugi jika menaruh harapan kebahagiaan

kepada manusia.

Doa yang belum Tuhan kabulkan pun tak semestinya membuat

kecewa. Sebab, itu hanya masalah waktu saja. Asalkan cara hidup

ini sudah sesuai dengan firman-Nya dan Tuhan melihat apa yang

diminta memang layak diberikan, maka belajarlah untuk bersabar.

Kata orang, orang sabar disayang Tuhan!

Kebahagiaan kita hanya ada dalam Tuhan saja. Kita akan

berbahagia ketika hidup menjalankan apa yang Tuhan kehendaki.

Kita akan berbahagia jika melakukan firman-Nya. Kita akan

berbahagia bila tahu bahwa di dalam hidup ini, bukan cuma kita

yang hidup, tetapi Kristus yang hidup di dalam kita. “… Namun

aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus

yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam

daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi

aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal. 2:20).

Untuk apa kecewa?