-->

Profil Hamba Tuhan

Foto Saya
Jakarta, Indonesia
Seorang Hamba Tuhan yang memiliki kerinduan untuk dapat memberkati banyak orang melalui Pastoral Konseling, dengan berbagai hal dan cara, salah satunya adalah melalui fasilitas dunia maya (Internet). Riwayat Pendidikan Teologi: - Sarjana Theology (S. Th) jurusan teologi, 1999. - Master of Art (M. A) jurusan Christian Ministry, 2002. - Master of theology (M. Th)Thn 2010. - Doctor of Ministry (D. Min)Thn 2009. God Bless You All.

Pendahuluan

Shallom, selamat datang di blog saya Pdt. Denny Harseno, M. A., D. Min. Saudara, saya senang sekali jika dapat memberkati saudara sekalian melalui setiap tulisan-tulisan dan artikel-artikel yang ada pada blog ini. Jika saudara ingin membaca setiap tulisan-tulisan dan artikel-artikel terdahulu yang ada pada blog ini, saudara cukup memilih label daftar isi blog atau dengan memilih pada arsip blog yang ada di samping kiri blog ini, dan silahkan mengisi buku tamu blog saya dibawahnya, agar saya dapat mengetahui siapa saja yang telah berkunjung diblog saya. Terima kasih atas perhatiannya, Tuhan Yesus Kristus memberkati.

14 Desember 2009

Kebahagiaan Versi Tuhan



Apa sebenarnya definisi kebahagiaan? Ada yang berkata, bahwa
saya akan berbahagia kalau mempunyai rumah yang bagus bahkan
mewah; mempunyai istri dan anak-anak yang baik; mempunyai
deposito; memiliki jabatan dan kekayaan. Semua itu adalah ciri
kebahagiaan menurut dunia. Bagi orang percaya, kebahagiaan
haruslah sesuai dengan definisi Tuhan.
Mari kita membaca Lukas 1:26-38 berikut ini:

Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah
kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan
dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.
Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang
dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan
itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu
kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan
Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang
anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi
besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan
mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan
menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-
Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana
hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu
kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi
akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut
kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang
mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam
bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”
Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku
menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Kebahagiaan yang sejati adalah kebahagiaan karena

melakukan kehendak Allah

Bacaan alkitab di atas adalah berita natal yang disampaikan
Gabriel kepada Maria. Gabriel memang merupakan malaikat
pembawa pesan, yang kerap menyampaikan kabar gembira dari
Tuhan kepada manusia. Mendengar apa yang disampaikan
Gabriel, kontan Maria menjadi heran. Menjadi heran, karena dia
belum mempunyai suami, bagaimana mungkin bisa beranak.
Keheranan Maria adalah manusiawi. Manusiawi, karena berita
bahwa ia akan mengandung padahal belum bersuami adalah
kemustahilan, ketidakpercayaan dan berpotensi kekecewaan.
Pertanyaan seperti ini juga sering muncul dalam konteks
berbeda. Kita sering berkata, bagaimana mungkin saya dipakai
Tuhan sementara hidup saya susah, tidak punya harta benda, belum
menikah. Bukankah kalau dipakai Tuhan itu harus hidup kudus?
Maria merasa heran, Tuhan mau memakainya, padahal suami
belum punya. Keheranan Maria tersebut menggambarkan respon
manusia soal ukuran kebahagiaan; di mana kebahagiaan itu harus
mempunyai suami – jadi bukannya menerima apa yang Tuhan
kehendaki; bukannya menyerahkan diri kepada Tuhan. Singkatnya,
ukuran manusia adalah “kalau mempunyai”. Inilah yang seringkali
menjadi kegagalan kita. Itu sebabnya, ketika kita belum
mempunyai istri kita bersungut-sungut. Belum punya anak, kita
marah-marah, malah ingin bercerai. Belum punya kekayaan dan

jabatan, kita merasa kecewa dan gagal. Jika seperti itu model
perilaku kita, maka meskipun kita hidup dekat dengan Tuhan,
sebenarnya kita ini gagal dipakai oleh Tuhan.
Mempunyai dan memberhalakan sesuatu yang sifatnya tidak
kekal itu adalah salah. Hal ini yang membuat manusia sering
mengalami kekecewaan. Ketika seseorang sudah mempunyai
rumah, dia berkata betapa bahagianya saya sekarang.
Berbahagiakah dia? Belum tentu, karena nanti dia ingin punya 2
rumah lagi. Inilah kemaruknya manusia; serakah. Model orang
Kristen begini jarang untuk berkata, “Tuhan apa yang Engkau
kehendaki aku lakukan?” Konsep yang ada justru, apa yang ingin
aku miliki dan lakukan semauku. Banyak panggilan Tuhan gagal
kita lakukan dan selesaikan dengan baik, karena kita masih
memikirkan diri sendiri; panggilan itupun kita anggap mustahil.
Suatu waktu saya berbicara dengan seorang bapak yang
menurut saya sangat pandai dalam berkata-kata. Itu sebabnya
saya bilang kepadanya, bahwa dia cocok menjadi pendeta. Tetapi
dia berkata, untuk apa menjadi pendeta? Nanti kalau saya sudah
menduduki jabatan tinggi di kantor, lalu pensiun, baru mungkin
mau. Mungkin… Dia menunda panggilan Tuhan. Dia
mengganggap pekerjaan Tuhan lebih rendah dan tidak penting
ketimbang pekerjaan dan jabatannya. Saudaraku, jangan menolak
pekerjaan Tuhan dengan alasan mustahil, dan atau karena belum
mempunyai apa-apa dan menjadi siapa.
Maria belum mempunyai suami. Dengan kata lain dia hendak
berkata, “Nanti ya kalau saya sudah bersuami baru boleh Tuhan
pakai”. Memang pada saat itu, apabila ada seorang perempuan
yang belum bersuami kedapatan mengandung, maka dia pasti
akan mendapat hukuman rajam. Di samping itu, dia mengalami
ketidakenakan, karena keberadaan dan kebebasannya sebagai
perempuan lajang bakal terampas. Namun, pada ayat 38, Maria
kemudian menyadari bahwa Tuhan mau memakainya sebagai alat-
Nya. Inilah yang tepat. Tepat, karena jika Tuhan mau memakai
manusia, itu artinya Tuhan sudah memilihnya. Dalam hal ini,
Tuhan tidak perlu syarat dari manusia. Orang yang dipilih pun
tidak perlu melakukan
bargaining dengan Tuhan. Mengapa? Karena
bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Ketidakmustahilan bagi Allah
adalah kemenangan bagi manusia. Ini penting sekali. Untuk itu,
kita cukup berkata: “Aku ini hamba, jadilah padaku menurut
perkataan-Mu”. Jangan berkata: “Di keluargaku tidak ada turunan
pendeta, bagaimana saya bisa menjadi pendeta…” Meskipun kita
belum menjadi apa-apa dan belum bisa apa-apa, tetapi kalau
Tuhan sudah memanggil kita, kita harus siap, dan berkata: Ya
Tuhan, aku siap.
jadi, apakah kebahagiaan itu? Kebahagiaan adalah apabila kita
melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Dalam Matius 5:6,
dikatakan:
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran,
karena mereka akan dipuaskan
. Dalam Alkitab Bahasa sehari-hari,
ditulis dengan “orang yang selalu mau melakukan kehendak Allah,
itulah yang berbahagia”. Jadi, bukan orang yang selalu ingin
memiliki harta yang banyak yang pasti berbahagia - itu konsep
dunia.

Memberi diri kepada Allah

Dalam Matius 5:7-8, dikatakan: Berbahagialah orang yang murah
hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang
yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah
.
Inilah kebahagiaan dalam memberi. Memberi pengampunan,
kemurahan, menyayangi, mengasihi dan memberi kesucian
kepada Tuhan. Inilah berbahagia. Suami yang memberi hatinya
kepada istri; menyayangi istri itulah berbahagia. Jadi, siapa yang
memberi itulah yang berbahagia. Firman Tuhan berkata,
adalah
lebih berbahagia memberi dari pada menerima
(Kis 20:35). Jadi, kalau
kita masih uber harta, kapan kaya, kapan naik pangkat, kapan
dapat anak, kapan dapat jabatan, kapan punya rumah, kapan
hutang terbayar – itu semua konsep yang salah total tentang
kebahagiaan. Kebahagiaan menurut dunia ini adalah sampah,
demikian kata Paulus (Flp. 3:7-8).
Berkaitan dengan “memberi diri kepada Allah”, saya ingin
melontarkan pertanyaan, benarkah anda mengandalkan Tuhan?
Banyak orang yang datang konseling kepada saya, berkata begini:
“Saya tenang pak karena deposito saya banyak. Saya tenang,
karena badan saya sehat. Saya tenang, karena atasan saya sayang
kepada saya. Saya tenang, karena rumah saya dijaga banyak
satpam. Saya tenang, karena
backing saya jenderal”. Apakah itu
yang dimaksud dengan mengandalkan Tuhan? Introspeksi diri
kita, apakah ketenangan hidup yang kita alami saat ini karena
benar-benar mengandalkan Tuhan atau hal yang lain yang menjadi
andalan. Bagaimana cara mengintrospeksinya? Gampang, apabila
hal-hal lain itu tidak ada lagi pada anda, apakah anda masih bisa
tenang? Apakah kehilangan hal-hal itu bisa tetap membuat anda
berbahagia? Orang yang berbahagia adalah orang yang selalu
menaruh harapannya kepada Tuhan, dan yang mengandalkan-Nya
setiap waktu (Yer. 17:7-8).


Orang yang berbahagia adalah orang yang memberi dirinya

untuk orang lain

Matius 5:9 menulis: Berbahagialah orang yang membawa damai, karena
mereka akan disebut anak-anak Allah
.
Apabila kita menolong orang, maka orang itu akan berbahagia,
sedangkan kita yang menolong, akan 2x lebih berbahagia. Saya
pernah memberi orang yang meminta-minta. Orang itu
berjingkrak-jingkrak karena uang yang diberi kepadanya.
Ceritanya begini: Saya dan beberapa teman sedang
on the way
dengan baby benz. Mobil kami hendak memasuki gerbang tol.
Di pintu tol ada orang yang meminta-minta. Saya dengan
beberapa teman yang ada di mobil mau memberi. Kami saling
bertanya siapa yang mempunyai uang receh... Teman saya yang
di belakang salah mengerti, dia pikir kita mau membayar tol,
maka dia memberi uangnya senilai Rp 10.000. Tanpa bicara lagi,
teman saya yang menyetir mobil langsung membuka kaca dan
melempar uang tersebut ke arah si peminta-minta. Apa yang
terjadi, orang yang meminta-minta itu berjoget ria. Teman saya
yang duduk di belakang yang memberi uang Rp. 10.000 tadi
protes,
“Lho kok uang itu diberikan kepada orang yang minta-minta,
itu uang kan untuk bayar tol?” Menyadari yang sebenarnya,
kami semua tertawa terbahak-bahak, karena kami salah memberi
uang... Lihat, orang yang kami tolong berbahagia, kami pun lebih
berbahagia lagi.
Dalam ayat 46 bacaan alkitab di atas, Maria tidak memikirkan
lagi keberadaannya kalau nanti dia hamil bagaimana, padahal
belum menikah. Maria tidak lagi memikirkan kebahagiaannya
sebagai manusia, tetapi lebih memikirkan kepentingan Tuhan.
Sikap Maria yang mengorbankan keinginannya dan lebih
mengutamakan kemauan Tuhan, telah menempatkan Maria

sebagai wanita yang terhormat dan dimuliakan; orang Katolik
menjunjung tinggi bunda Maria.
Ibu-ibu, jika mau dijunjung tinggi, lakukanlah perintah Tuhan.
Dalam Yesaya 49:15,
Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya,
sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia
melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau
. (perempuan: women
bukan mother. Women artinya setiap perempuan, kendati belum
mempunyai bayi). Tuhan menyuruh kita mengambil pelajaran
tentang kasih dengan melihat kepada seorang perempuan yang
tidak akan membuang bayi yang dikandungnya. Bentuk nyata kasih
Tuhan kepada umat-Nya, terlihat seperti seorang perempuan
yang menyusui, memelihara dan melindungi anaknya. Perempuan,
sebagai apapun anda saat ini, jangan mengkhianati kasih Allah
yang dicontohkan kepadamu agar dunia dapat melihatnya.
Sekalipun di jaman
edan ini ada perempuan yang nekat dan
tega membuang bayinya, kasih Allah tidak sama dengan sikap
itu; kasih-Nya terus berlangsung sampai selamanya. Betapa
berbahagianya jika kasih Allah senantiasa nyata dalam kehidupan
kita.


0 komentar:

Poskan Komentar